Rabu, 20 Juni 2012

kitab kuning

Al Umm Syafi'i



Kitab Al-Umm Syafi'i Shafi'i

Kitab Al-Umm adalah kitab kuning klasik yang ditulis oleh Abu Abdillah Muhammad ibn Idris Al Shafi'i (150 - 204 hijriyah/ 767 - 820 masehi/CE) atau lebih dikenal dengan Imam Syafi'i.

Kitab Al-Umm adalah kitab induk--arti literal dari al-umm--yang menjadi referensi para ulama penganut madzhab Syafi'i yang berada di bawahnya.

Kitab Al Umm dibaca dan dikaji di Ponpes Al-Khoirot Malang setiap pagi (dua hari sekali). Pemisahan tulisan di situs ini berdasarkan pengajian bandongan/wetonan yang dibaca pada setiap pengajian. Al Umm juga dibaca setiap bulan, pada setiap Jum'at Legi pagi hari, untuk alumni Al-Khoirot dan kalangan umum.
pondok pesantren alkhoirot malang

Selain Al Umm, kitab yang dibaca pada pengajian pagi di PP Al-Khoirot adalah kitab Tafsir Jalalain, hadits Sahih Bukhari, fiqh Fathul Wahhab, Muhadzhzab, dan Iqna'.

Kalangan umum boleh mengikuti seluruh pengajian di atas tanpa harus menjadi santri Al-Khoirot. Silahkan langsung datang ke Pondok Pesantren Al-Khoirot Jl. KH Syuhud Zayyadi 01 Karangsuko Pagelaran Malang setiap jam 5 pagi atau setiap Jum'at legi dari jam 07.30 sampai 09.30

Uqûdu Al-Lujjayn


Assalamu 'alaikum, Sobat! Mulai post ini bakal ada Brand baru di lapak gue, yaitu: KitabKuning. Dimana gue bakal ngerensensi kitab-kitab klasik yang dipelajari di kampus (baca: penjara eh, pesantren) gue. :p Kitab klasik itu kalo bahasa kampus sering disebut Kitab Kuning, mungkin karna warna kertasnya yang kuning-kuning gimanaaaa gitu! :r

Cover, interface dan font Kitab Kuning ini gak kayak panduan skripsi kampus pada umumnya. Cover yang monoton (cuma judulnya aja yang beda-beda), interface warna kuning yang dominan dan font arab gundul (tulisan arab tanpa harokat) yang njlimet bin ruwet. Dan pada launching brand perdana ini, kitab yang bakal gue resensi adalah kitab Uqûd Al-Lujjayn karangan Imam An-Nawawi. :)

Ada gak dari Elo yang udah pengen masuk ke dunia yang lebih mateng dengan segala problematika-nya? Atau elo udah berkeluarga cuma masih belom paham apa yang mesti elo lakuin? Trus apa yang elo arepin dari semua itu? #mikir

Yupz! Jawabannya adalah kebahagiaan! Semua orang pengen bahagia, kan? Yang enggak pengen, minggir! :D Tapi kalo fakta sosialnya bicara laen, pastinya bukan kemauan sendiri. Ya nggak? It's no easy, Sob! Orang mesti susah payah nyari kunci kebahagiaan hidup berumah tangga.

Menurut Imam Al-Ghozali, tujuan utama perkawinan adalah negakin tanggung jawab sosial. Beliau juga nyebutin 6 manfa'at perkawinan: regenerasi keturunan, ngelindungin agama, ngebatasin hawa napsu, pedekate ke kaum hawa, punya someone yang ngurusin rumah tangga dan ngelatih diri bersikap baek.

Atas dasar itulah Islam nganjurin biar suami dan istri berperilaku baek satu sama laen.

Dan mereka (para istri) punya hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang ma'ruf..." [QS. Al-Baqarah: 228]

mukhtasor jiddan

Dari Burai, dari ibnu Abi Musa, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya perumpamaanku dengan misi ajaran yang Allah berikan kepadaku bagaikan seorang pria yang datang kepada kaumnya. Ia berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku melihat bala tentara dengan kepada sendiri mau menyerang kita. Aku hanya mengingatkan untuk keselamatan kalian.

Mendengar peringatan tersebut, sebagian kaumnya taat untuk mengikuti langkah pria itu. Mereka berjalan secara perlahan sampai akhirnya selamat. Sedangkan sebagian yang lain mendustakan peringatan tersebut dan tidak menaatinya. Mereka lebih memilih berada di tempat ketika fajar subuh menyingsing. Maka akhirnya bala tentara itu menyerang mereka  sampai mereka terluka dan binasa.

Demikianlah gambaran antara orang yang taat dengan mengikuti (‘ittiba’) ajaranku dan orang yang membangkang dan mendustakan kebenaran misiku (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Aku ingin mewarisi sifat dan akhlak Rasulullah, berbudi luhur, sabar dan pemaaf, melarang untuk menyampaikan yang tak layak, belas kasih dan sayang, sifat malu nabi,  tawadhu, pemohon pahala untuk kaum muslim, dermawan, ramah, berani, dan senda gurau yang benar, dan segala kelebihan-kelebihan lainnya.

Aku juga ingin tetap mewarisi misi ajaran Rasulullah

Di manakah dan apakah nama madrasah-nya ?

-------

Pemikiran ini berasal ketika saya mencoba membandingkan antara
1.    pendidikan yang diberikan oleh Allah kepada Rasulullah, dengan
2.    pendidikan yang diberikan Rasulullah kepada para sahabat, dan
3.    pendidikan formal yang ada sekarang.

Pada zaman dahulu, Rasulullah membentuk suatu komunitas yang bernama ahlu shuffah, yaitu kalangan orang miskin yang hidup di satu ruangan pada mesjid Rasul. Mereka hidup bersama Rasul bergerombol selama 24 jam. Abu Dzar adalah salah satunya. Dari mereka bermunculan hadist tentang kehidupan keseharian Rasul.

Dengan metode itu, para ahlu shuffah memiliki sumber ilmu yang satu, yaitu Rasulullah. Ketika itu, rasulullah tidak hanya melakukan transfer ilmu, melainkan juga transfer nilai-nilai yang ada pada ilmu tersebut. Tak heran jika kemudian ilmu-ilmu itu dipenuhi dengan pengalaman-pengalaman ruhani yang luar biasa bersama Rasulullah.

Cara mendapatkan ilmu tersebut, bertahan terus sampai pada kalangan sahabat, dan akhirnya sampai pada ulama-ulama klasik. Para ulama klasik ini tidak pernah berani menuliskan sebuah buku, manakala kitab-kitab dari pendahulunya yang sejenis sudah ada. Hal itu karena kitab-kitab yang ditulis para pendahulunya adalah kitab-kitab yang penuh dengan pengalaman ruhani yang terkait dengan suatu ilmu. Pengalaman-pengalaman ruhani ini yang tidak bisa didapat hanya dengan membaca buku.

Berdasarkan hal itu, tindakan mereka terkait dengan pemikiran ilmu adalah memberikan syarah (komentar) terhadap sebuah isi (matan) kitab utama yang ditulis oleh pendahulunya.

Generasi berikutnya pun demikian. Mereka tak berani menulis kitab serampangan tanpa ilmu yang mencukupi. Tindakan pembaharuan mereka terhadap kitab dan ilmu yang sudah ada adalah memberikan khasiah (komentar terhadap syarah).

Tradisi pendidikan ini berlanjut pada pesantren-pesantren klasik. Salah satu kitab yang dipelajari pada pesantren klasik adalah kitab kuning. Namanya kitab kuning, tapi jilidnya bisa jadi berwarna lain. Mungkin dikatakan kitab kuning karena warna kertasnya berwarna kuning. Kitab ini sebenarnya terbagi-bagi lagi menjadi beberapa bagian. Salah satunya adalah kitab Jurumiah (kitab alat untuk dapat membaca kitab dengan huruf arab gundul [tanpa sakal]). Yang saya contohkan disini adalah kitab jurumiah – mukhtasar jidan (ikhtisar baru). Diterbitkan oleh ihya kutubul arabiyah. Ditulis oleh seorang ulama Makkah.


Di lain pihak saya masih ingat cerita guru saya, bahwa kalangan ulama pada saat itu memanggil penulis kitab kuning ini, agar beliau mempertanggungjawabkan isinya. Ketika para ulama ini akan mulai bertanya, mereka melihat bahwa pada mata penulis kitab ini tergambar samudra. Dan hal itu kemudian dinilai cukup untuk mempertanggung jawabkan kitab ini. Demikianlah kitab ini terus abadi sampai sekarang. Padahal kitab jurumiah ini tebalnya hanya 28 halaman.

Pertama kali saya belajar kitab ini, saya merasa menjadi orang yang paling tolol sedunia. Tak tahu bagaimana cara membacanya. Guru saya hanya mendiktekan isi kitab per-lafad kemudian menterjemahkannya. Dari Pendiktean tersebut saya harus menghapalnya di dalam kepala. Saya pontang panting mengikuti, sedangkan guru saya cuek saja seolah dia membaca untuk dirinya sendiri. Walaupun demikian metode pembelajaran itu sangat manjur. Dari metode itu, saya dapat mengenali mengapa suatu huruf dibaca a, i, atau u. Dari situ pula saya dapat belajar bahwa kitab tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu matan (inti) dan syarah (komentar / keterangan lebih lanjut).  Walaupun metode ini membuat saya pontang-panting, tapi hasilnya sangat berbeda dengan metode-metode instant belajar bahasa arab dan membaca arab yang serba instan.  Ya, bagaimana bisa instan, kalau semua kaidah membaca tersebut harus dihapal di dalam kepala.


Jika kita melihat kitab-kitab sekarang, mana ada kitab yang ditulis orang-orang zaman sekarang yang abadi seperti kitab yang ditulis ulama terdahulu. Kitab Al Ghazali terus abadi, bahkan beradab-abad penulisnya meninggal. Demikian juga dengan kitab-kitab klasik lain. Terlihatkah perbedaannya ? Bukankah jauh berbeda dengan kitab-kitab yang ditulis oleh orang yang tak berilmu ?. Bahkan lebih jauh lagi perbedaannya dengan kitab-kitab yang ditulis hanya untuk mendapatkan keuntungan berupa uang (bukan dengan keikhlasan demi menyebarnya ilmu-ilmu Allah). Kelihatannya keberkahan ilmu sudah tercabut. (ngeri saya mengingatnya....)

Saya seringkali ingin meniru mereka dalam menulis kitab. Seringkali mereka menyengaja menulis kitab di hadapan ka'bah, dan dilakukan dalam keadaan berpuasa, agar tersuci kalimat yang tergores. Agar tak ada setan yang menggelincirkan pena. Ah, masih adakah mereka yang seperti itu ?

Zaman sekarang orang banyak menuliskan kitab dengan menafsir-nafsirkan Al Quran dan Al Hadist tanpa ilmu (seenak perutnya). Padahal untuk mengerti Al Quran saja butuh 17 ilmu inti (tak termasuk ilmu-ilmu cabangnya). Ilmu-ilmu hadist lebih banyak lagi, sampai ratusan jumlahnya.

Demikianlah, kitab-kitab yang dihasilkannya tanpa ilmu bersifat kering (tak dapat memberikan sibghah) dan tidak abadi. Tak heran karena kitab-kitab yang ditulis hanya meniru ulama-ulama terdahulu tanpa memiliki pengalaman makna ruhani. Sehingga kalimat-kalimat yang ditulis, keluar tanpa ruh. Bahkan lebih parah lagi, ilmu yang ditulisnya bebas lepas tak terpagari.

Masih ingat ketika saya belajar tasawuf. Guru saya tidak memberikan langsung ilmu itu, tetapi saya diajari dulu Al Quran dan Al Hadist. Itu pun tidak langsung kepada Al Quran dan Al Hadist, melainkan mempelajari pendapat ulama-ulama terdahulu terkait dengan Al Quran dan Al Hadist tersebut. Waktu itu, saya masih heran, dan bertanya “mengapa tidak langsung ?” Belakangan saya baru mengerti bahwa hal itu dimaksudkan agar ilmu tasawuf yang saya pelajari terpagari dengan baik oleh Al Quran dan Al Sunah yang didapat dari ilmu-ilmu dan pengalaman ruhani ulama terdahulu, sehingga saya tidak salah langkah.

Berdasarkan semua itu, saya ingin tetap dalam metode pembelajaran Rasul. Tak pernah ingin belajar dengan metode lain. Metode Rasul tentu adalah metode terbaik (tak akan ada yang lebih baik). Walaupun saya pernah menerima brosur yang berisi ajakan untuk memakrifati Allah secara instant dalam 2 jam, saya sama sekali tidak tertarik. Walaupun brosur itu mengklaim mampu menyibak tabir dan membuka alam malaikat, saya tetap tidak tertarik. Kenapa ? Ya, karena tidak mengikuti sunah Rasul dalam belajar.

Manakala saya memiliki 3 mangkok nasi, maka saya memiliki dua pilihan
a.    Memakannya semuanya sekaligus dalam satu waktu secara instan
b.    Memakannya berangsur. Pagi satu mangkok, siang satu mangkok, malam satu mangkok
Kira-kira mana yang lebih maslahat ? Kiranya jawaban itu ada dalam hati masing-masing.

Ah, alangkah baiknya guru saya membimbing saya. Tak hanya memberikan kitab, ilmu dan nilai-nilainya, melainkan juga memberikan pagar yang cukup agar saya tidak salah jalan. Sungguh semuanya tak akan didapat dari buku dan kitab.

Saya ngeri kalau melihat orang lain. Membaca buku, kemudian mengaku bertapa 40 hari. Setelah itu mengaku sebagai rasul setelah muhammad. Wahyu siapa yang didapatkannya ? Setan ? Koq dia tak bisa membedakan mana bisikan malaikat dan setan ? Masa Rasul lemah begitu ?

Terima kasih dan takzim-ku untuk guruku yang sangat memperhatikan dan mengasihi aku sebagai muridnya. Walaupun aku adalah murid yang penuh kekurangan di sana dan di sini, tetapi beliau masih mau membimbingku, bahkan di kala sakitnya.

Semoga Allah membersihkan sirr-nya. Amin......
Dan semoga Allah membiarkanku tetap berada di jawiyahnya dan jawiyah Rasulnya.

Shohih Muslim

Kitab makno Shohih Muslim

Kitab Shohih Muslim adalah Kitab yang berisi kumpulan Hadits Nabi SAW, kitab ini banyak digunakan sebagai referensi umat islam dan sudah dilengkapi makna ala pesantren.

Kami juga melayani pemesanan Kitab kuning (diraasah al-Islamiyah) yang sudah dilengkapi makna ala Pesantren, Kitab kuning (nukilan) yang diterbitkan oleh Pondok Petuk dan juga menyediakan beberapa terjemah Kitab kuning bahasa Indonesia atau buku-buku Islam.

Tafsir Jalalain li as Syuyutiy.

Kitab Hasiyah Showiy

Kitah Hasiyah Showiy adalah sebagai komentar dan penjabaran Kitab Tafsir Jalalain li as Syuyutiy.

Kami melayani pemesanan Kitab kuning (diraasah al-Islamiyah) yang sudah dilengkapi makna ala Pesantren, Kitab kuning (nukilan) yang diterbitkan oleh Pondok Petuk dan juga menyediakan beberapa terjemah Kitab kuning bahasa Indonesia atau buku-buku Islam.

LAYANAN KONSUMEN
Bookstore-Kitab Kuning
Kompl.Pondok Petuk - Kediri
email: affandiy@gmail.com
Phone: +6285856203079

Al Khothib Al Bagdady


ِAuthor  : Al Khothib Al Bagdady
Tahqiq   : Amr Abdul munim salaim
Publisher: Maktabah Ibn Taimiyyah
Price     : Rp…………..
Categories: Manhaj



Kitab Arab Import, Kitab Salaf, Kitab klasik, Kitab Kuning, Kitab Gundul, Kitab Muashir dalam berbagai disiplin ilmu pengetauan Islam berupa: Aqidah, Figih, Akhlak, Hadits, Tafsir, Ulumul Quran, Lugoh, Siroh, Lugoh dan disiplin ilmu lainnya dapatkan di: www.maktabahalummah.wordpress.com